Samarinda sering jadi kota singgah — orang datang untuk urusan kerja, rapat di instansi provinsi, atau transit perjalanan antar kota. Tapi kalau kamu punya waktu setengah hari atau bahkan satu hari penuh, kota ini ternyata menyimpan lebih banyak dari yang terlihat dari jendela taksi. Dari ikon religi yang berdiri megah di tepi Sungai Mahakam, kampung pengrajin tenun yang masih hidup sampai hari ini, hingga air terjun di pinggir hutan yang bisa dicapai dari pusat kota — Samarinda punya pilihan wisata yang cukup beragam untuk berbagai selera. Kalau kamu hanya punya satu tempat yang bisa dikunjungi di Samarinda, yang ini jawabannya. Masjid Islamic Center berdiri di tepi Sungai Mahakam dengan ukuran yang tidak main-main — ini adalah salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara, dengan kubah utama setinggi 43 meter dan menara yang bisa terlihat dari berbagai sudut kota. Bangunannya memadukan arsitektur Islam klasik dengan sentuhan modern, dan area di sekitarnya cukup luas untuk sekadar duduk dan menikmati pemandangan sungai. Waktu terbaik untuk datang adalah sore hari menjelang Maghrib — cahaya matahari yang mulai rendah membuat tampilan kubah dan pantulannya di sungai jadi momen yang sulit dilupakan. Tersedia area parkir luas dan bebas dikunjungi oleh umum (non-Muslim juga boleh masuk ke area luar masjid). 📍 Jl. Slamet Riyadi, Samarinda Seberang Tepian Sungai Mahakam bukan sekadar pemandangan — ini adalah ruang hidup warga Samarinda sehari-hari. Taman Tepian Mahakam adalah area terbuka di tepi sungai yang jadi tempat favorit warga lokal untuk jogging pagi, duduk sore, atau sekadar menikmati lalu-lalang kapal tongkang yang melintas di sungai terbesar Kalimantan Timur. Di sini kamu bisa merasakan denyut kota yang berbeda dari pusat perbelanjaannya. Kalau datang malam hari, suasananya cukup hidup — ada penjual makanan kecil dan kafe-kafe di sekitar kawasan. Jembatan Mahakam yang ikonik terlihat jelas dari sini, terutama saat malam dengan lampu-lampunya yang menyala. 📍 Kawasan Tepian Mahakam, Samarinda Ulu — mudah dijangkau dari pusat kota Samarinda punya kain tenun khasnya sendiri yang motif dan tekniknya berbeda dari daerah lain di Kalimantan. Dan di Kampung Tenun, kamu bisa melihat langsung proses pembuatannya — bukan sekadar beli produk jadi di toko souvenir. Pengrajin di sini masih menggunakan alat tenun tradisional secara manual. Prosesnya panjang dan butuh ketelitian yang luar biasa untuk setiap helai kain. Mengunjungi kampung ini terasa seperti masuk ke ruang kerja yang masih bernapas dengan cara lama — sesuatu yang makin jarang bisa dilihat di kota besar. Selain menyaksikan proses tenun, kamu juga bisa membeli kain langsung dari pengrajinnya. Harganya lebih terjangkau dibanding yang sudah masuk ke toko oleh-oleh, dan kamu tahu persis asal-usulnya. 📍 Kawasan Balik Bukit, Samarinda — sekitar 15–20 menit dari pusat kota Satu-satunya kebun raya di Kalimantan Timur ini terletak di dalam kompleks Universitas Mulawarman, sekitar 10 km dari pusat kota. Luasnya sekitar 300 hektar — sebagian besar masih berupa hutan alami yang menjadi habitat berbagai tanaman khas Kalimantan. Yang membuat tempat ini menarik bukan hanya koleksi tumbuhannya, tapi juga suasananya. Masuk ke dalamnya terasa seperti berpindah dari kota ke tengah hutan dalam hitungan menit. Ada jalur pejalan kaki, danau buatan, dan area teduh yang cocok untuk piknik atau sekadar duduk santai. Cocok untuk keluarga yang datang bersama anak-anak, atau siapa saja yang butuh jeda dari keramaian kota. 📍 Jl. Krayan, Samarinda — area Kampus Unmul Kalau kamu punya waktu lebih dan ingin keluar sebentar dari suasana kota, Air Terjun Tanah Merah bisa jadi tujuan yang tepat. Lokasinya sekitar 20–30 menit dari pusat kota Samarinda, dikelilingi oleh hutan yang masih cukup lebat. Air terjunnya tidak setinggi atau sebesar destinasi-destinasi populer di Jawa atau Bali, tapi justru itu yang membuatnya terasa lebih tenang dan tidak ramai. Latar belakang batuan dan tanah merah yang khas Kalimantan memberikan warna yang unik — populer di kalangan yang suka fotografi alam. Akses ke lokasi sudah cukup memadai, tapi disarankan menggunakan kendaraan roda dua atau SUV karena jalur terakhirnya tidak terlalu mulus. 📍 Kawasan Tanah Merah, pinggiran Samarinda Dua jembatan besar yang melintasi Sungai Mahakam ini adalah landmark kota yang bisa dinikmati dari berbagai sudut — dari atas jembatan, dari tepian sungai, atau dari atas perahu. Jembatan Mahakam adalah yang lebih tua dan ikonik — dari atas jembatan ini kamu bisa melihat lalu lintas sungai yang masih aktif: kapal tongkang pembawa batu bara, kapal penumpang, dan perahu-perahu kecil yang lalu-lalang. Jembatan Mahkota II yang lebih baru punya desain kabel yang lebih modern dan jadi spot foto favorit di malam hari. Keduanya tidak perlu tiket masuk dan bisa dikunjungi kapan saja. Satu tempat yang jarang masuk daftar wisata resmi tapi selalu direkomendasikan oleh warga lokal: Pasar Pagi Samarinda. Datang sebelum jam 08.00 dan kamu akan menemukan kota yang berbeda — sibuk, berwarna, dan penuh aroma masakan. Ini adalah tempat terbaik untuk mencicipi makanan khas Kalimantan Timur langsung dari sumbernya: kue-kue tradisional, lauk pauk khas, dan jajanan yang tidak akan kamu temukan di mal. Kalau kamu tipe traveler yang suka masuk ke pasar lokal sebelum kunjungi tempat wisata, jangan lewatkan ini. 📍 Pasar Pagi, pusat kota Samarinda — aktif dari subuh hingga sekitar jam 10.00 Perjalanan ke Samarinda belum lengkap tanpa mencicipi beberapa makanan khasnya. Beberapa yang paling dicari: Soto Banjar — varian soto khas Kalimantan dengan kuah bening yang gurih dan biasanya disajikan dengan perkedel atau lontong. Sarapan paling pas di Samarinda. Amplang — kerupuk ikan khas Kalimantan Timur yang teksturnya renyah dan rasanya gurih. Ini oleh-oleh paling umum yang dibawa pulang dari Samarinda — bisa ditemukan di hampir semua toko oleh-oleh. Nasi Kuning Khas Kalimantan — berbeda dari nasi kuning Jawa, sajian ini biasanya lebih kaya lauk dan dimakan sebagai makan pagi atau siang. Banyak warung di sekitar pasar yang menyajikannya dengan lauk ikan laut khas sungai Mahakam. Sate Payau — sate dari daging rusa yang menjadi kuliner unik khas Kaltim. Tidak semua warung menyediakan ini, tapi kalau ketemu, sayang dilewatkan. Seluruh destinasi di atas bisa kamu jangkau dengan mudah dari pusat kota Samarinda — sebagian besar tidak butuh lebih dari 30 menit perjalanan. Kalau kamu datang dari luar kota, Banyumili melayani travel rute ke Samarinda setiap hari dari Balikpapan, Bontang, dan Sangatta — dengan sistem door to door yang menjemput dari alamatmu dan mengantarkan langsung ke tujuan di Samarinda, tanpa perlu turun di terminal. Cuaca Samarinda bisa sangat panas di siang hari — rencanakan kunjungan ke tempat outdoor di pagi (sebelum jam 10.00) atau sore (setelah jam 15.30) Kendaraan sewa lebih fleksibel untuk mengunjungi beberapa destinasi dalam satu hari — ojek online juga tersedia dan aktif di dalam kota Bawa uang tunai untuk pasar dan warung lokal — tidak semua menerima pembayaran digital Kampung Tenun dan pasar lokal lebih ramai di hari kerja — kalau mau pengalaman lebih hidup, datang hari Senin–Jumat1. Masjid Islamic Center Samarinda
2. Taman Tepian Mahakam
3. Kampung Tenun Samarinda
4. Kebun Raya Universitas Mulawarman
🕐 Buka pagi hingga sore, direkomendasikan datang pagi agar lebih sejuk5. Air Terjun Tanah Merah
6. Jembatan Mahakam & Jembatan Mahkota
7. Pasar Pagi Samarinda
Kuliner Khas Samarinda yang Wajib Dicoba
Mau ke Samarinda dari Balikpapan, Bontang, atau Sangatta?
Tips Singkat Jalan-Jalan di Samarinda